“
Aku tak pernah tahu benar apa itu mencintai dan dicintai..
Aku hanya merasakan aku sangat ingin memilikinya..
Apapun yang ada dalam dirinya ingin kumiliki ..
Tapi, bagaimana ? “
Hari ini matatahari seakan enggan
bangun dari tidurnya.Aku melangkah dengan gontai. Melewati gerbang sekolah
dengan wajah kusut. Tidak ada senyum yang terlukis diwajahku. Dari kejauhan aku
melihat beberapa guru dan adik kelas berjajar menyambut kedatangan siswa
disekolah. Mereka bersalam-salam dengan senyum yang seadanya. Sepasang guru
terlihat sibuk mengobrol, diujung dari barisan itu, berdiri wanita paruh baya.
Dengan mata tajamnya melihat kesalahan kecil yang kami buat pagi itu. Wanita
itu membuat semua siswa siaga dari kejauhan, melihat lagi perlengkapan yang ada
ditubuh mereka tentu saja aku melakukan hal yang sama. Aku menyadari, aku tidak
memakai Pin garuda di bajuku. Lantas, aku mengaduk-aduk isi tasku. Tiba- tiba
ada seseorang menepuk pundakku, aku melihat kearahnya, rambut cepaknya terlihat
rapi terlihat berkilau diterpa sinar matahari dibalik punggungnya. Aku
memicingkan mataku, dia tersenyum kearahku. Tanpa sadar aku juga tersenyum
kearahnya, meskipun tersenyum seadanya.
"Kak Mia cari apa?" Aku hanya tersipu karna dia memergoki
kecerobohanku.
"em, itu aku gak bawa pin.." jawabku seraya menggaruk kepala bagian
belakangku.
"Bentar deh kak,.." sekarang gantian Nathan yang sibuk mengaduk-aduk
isi di kanting depan tas miliknya. Lalu dia melepas Pin miliknya.
"nih kak," Nathan memberikan Pin yang baru saja dilepasnya padaku
"Aku bawa 2 kok.."
“Eh, gapapa?” tanyakku ragu, tapi Nathan hanya menjawabnya dengan anggukkan
singkat dan senyum tipisnya.
“see you deh kak..” Nathan melambaikan tangan singkat dan berlalu mendahuluiku.
Tidak menunggu lama aku menyematkan pin ini di baju sebelah kanan, tanpa aku
sadari aku tersenyum sendiri.
Sejak hari itu,
saat bertemu dengannya atau hanya melihatnya dari jauh. Jantungku berdegup
semakin cepat. Pin pemberiannya masih saja aku pakai dan aku tak pernah
sekalipun lupa tidak memakainya.
“Miaaa!” teriak seorang perempuan tepat di telinga sebelah kananku. Aku menutup
telingaku setelahnya, lalu menoleh keasal suara itu. “Aku punya telinga kok,
gak usah pake toa!!” teriakku ditelinga kanan Yuri.
“ Ak udah panggil dari tadi kalii! Ada Bu Dewi tuh dikelas, buruan masuk!” kata
Yuri sambil berlalu kembali ke kelas. Aku berdiri meninggalkan bangku di
pinggir lapangan dengan seulas senyum tersembunyi. “Yurii! Tunggu” Aku berlari
kecil menyusul Yuri, kami berjalan bersama menaiki tangga dan lorong-lorong
sekolah.
Kedatangan Bu Dewi di kelas ku tentu saja membuat semua pemilik perut diruang ini teraduk-aduk. Bu Dewi membagikan undangan pengambilan hasil Ujian Nasional, yang berlangsung besok. Sepulang sekolah aku hanya duduk diam di bangku depan kelas, bagaimana tidak besok adalah hasil penentuan kelulusanku. "Kak Miaa!!" Ada Laki-laki memanggilku dari arah Ruang 1 yang berada disebelah kanan dari Kelasku, ruang 9. Itu Nathan sedang berlari kearahku dengan senyum manisnya, dan rambutnya yang bergerak tertiup angin. Nathan duduk disebelahku dengan nafas yang terengah-engah. "Kak.." Nafasnya belum teratur tapi dia masih memaksa untuk berbicara. "Ngapa..in?" Aku menepuk punggungnya dengan lembut, "tarik nafas dulu, than.." Aku engambil botol minum di kantong tasku yang berada dipangkuanku. "Minumm dulu, nih" Nathan mengambil botoitu lalu meminumnya. Lalu dia menarik nafas panjang, dan tersenyum simpul seraya mengembalikan botol minumku" "Makasi kak!" aku hanya tersenyum menanggapinya. Sebenarnya di dalam hatiku sudah berlonjak-lonjak menyadari lelaki yang kukagumi duduk disebelahku dan tersenyum kearahku.
"Cuma mau nanya, Kak Mia besok ikut ke sekolah gak ?" Tanya Nathan dengan mata yang berbinar-binar. Hatiku tersenyum lagi melihat tingkahnya didepanku.
"Gak tau, kayaknya berniat nunggu dirumah aja." Aku menatap kosong kebawah melihat siswa bermain basket.
" Ikut aja kak.. Nunggu rame-rame itu lebih seru, daripada sendiri dirumah?" Kata Nathan sambil menyenggol pundakku dengan pundaknya, dan membuat hatiku terbang ke langit.. Sepertinya laki-laki ini benar-benar membuatku jatuh cinta.
" Iya jugaa, tapi ntar aku sendirian lagi. Yang lain pada gak dateng." kataku sambil manyun. Nathan pasti paham dengan yang kumaksud "yang lain". Mereka sahabat- sahabatku yang juga kenal baik dengan Nathan, apalagi Vano bisa dibilang mereka bersahabat juga.
"Dateng kok, barusan aku bbm Bang Vano sama Kak Salwa. Besok aku juga disekolah kok." Kata Nathan sambil tersenyum sangat manis memamerkan deretan giginya dan tentu saja gingsulnya yang membuat laki-laki ini sangat mempesona.
"Terus ?" Aku memalingkan wajahku, karna aku tak sanggup lagi melihat senyum masnis dan mata yang berbinar-binar itu.
"Nanti aku temenin deh, sama liat hasil ujian Kak Mia.." Dia menggodaku lagi, dengan menarik ujung lengan seragamku. Oh Tuhan, betapa laki-laki ini membuatku Jatuh Cinta. Aku memanyunkan bibirku lalu manggut- manggut. "okelah, dateng.."
Hari itu aku datang kesekolah bersama ibuku. Setelah ibuku masuk ke kelas, Nathan menghampiriku dengan sejuta senyumnya. Dia menemaniku duduk di depan kelas, tidak berapa lama Vano datang bersama Salwa. Kami berempat berbincang-bincang tertawa bersama, ketika Bu Dewi Masuk kelas serasa tawaku hilang bersama hembusan angin. Perutku mulai bergejolak, dudukku mulai tidak tenang. Vano dan Salwa memutuskan untuk pergi membeli minum. Tinggal aku dan Nathan disana, mungkin Nathan menyadari tingkahku. Dengan lembut dia menarik telapak tangan kananku, dengan tangan kanannya. meletakkan di atas telapak tangan kirinya, tanganya langsung menggegam tangaku dengan lebut dan hangat. Aku memandang kearahnya dengan tatapan penuh tanda tanya, jantungku mulai berdegup tidak karuan. Semua orang menatapku dengan aneh, dan mulai berbisik-bisik dengan teman disebelah mereka. "Tenang aja kak..Luluss kok, nilainya baguss.." Dia mengusap lembut punggung tangan kananku dengan tangan kanannya. Tiba-tiba Vano dan Salwa datang sambil tersenyum nakal. Aku langsung menarik tanganku, aku menunduk menyembunyikan wajahku yang merah padam.
Sejak Hari itu, Cintaku makin menggebu-gebu terhadapnya. Meskipun aku sudah jarang kesekolah, tapi aku masih bisa mencari cara bertemu dengannya. Tentu saja melibatkan Vano dan Salwa, mengajak mereka hang out nanti Vano akan mengajak Nathan. Hal itu berlangsung berkali-kali. Bahagia ? Tentu saja tidak. Karna aku masih belum bisa menggapai tangannya.
Hari itu kuputuskan aku akan mengatakn semua perasaanku kepada Nathan, tapi aku masih saja bingung bagaimana aku harus memulai. Aku menunggunya didepan kelasku, dimana ditempat ini aku sering menghabiskan waktu bersama Nathan. Aku membawa tas kertas berisi kotak berwarna merah maroon. Aku duduk diam saja menunggu Nathan, dan sibuk memikirkan kata-kata yang cocok untuk keadaan seperti ini. Nathan datang berlari kearahku sambil tersenyum penuh arti kearahku. Seperti biasa Nathan harus mengatur nafasnya terlebhi dahulu, lalu aku menawarkan minum lalu dia meneguknya dengan semangat.
"Hmmm.." Nathan menarik nafas panjang lalu tersenyum memandangku "ciee Kak Miaa, Lulusan terbaik.." Nathan menyenggol tubuhku, aku hanya tersenyum dan menunduk. lagi-lagi dia membuatku seperti kepiting rebus.
"Biasa ajaa.." kataku singkat lalu aku menggeser dudukku sehingga aku berhadapan dengan Nathan sekarang. Aku memberikan tas kertas itu kepadanya. Nathan menerimanya dengan memiringkan kepala, tatapan matanya penuh tanda tanya.
"em itu buat kamu, buat kenang-kenangan." Kataku perlahan, aku sama sekali tidak ada keberanian untuk menatap matanya. " Semoga kamu suka, dan aku langsung mau cabut" Aku berdiri beranjak berdiri dan memegang tali tas ranselku dengan erat, aku tersenyum simpul kearah Nathan yang masih bingung. "Bye Nathan!" aku melambaikan tangaku lalu segera berlari menjauh dari Nathan. Aku mendengar Nathan bertanya kepadaku, tapi aku tak mengiraukannya. Aku terus berlari dengan pacuan jantung yang semakin cepat. Keringatku mengucur deras di perlipis. "Oh Tuhaaan.." Hanya itu yang kuucapkan sepanjang jalan didalam mobil yang melaju pergi meninggalkan sekolahku. Tanpa sadar aku mulai menitikkan air mata, karna aku masih belum siap dengan tanggapan Nathan nanti.
-------
Nathan -*
"Kak Miaa! Lho kok pulang? kak??" teriakku sangat keras tapi sepertinya Kak Mia tidak menghiraukan teriakanku. Dia terus berlari menjauhiku. Aku membuka Tas kertas itu, terdapat kotak berwarna merah maroon. Aku membuka kotak itu, didalamnya ada jaket sweater berwarna merah maroon dan surat dengan amplop berwarna merah maroon juga. Aku membuka surat itu,
"haii Nathan .. :)
Aku terlalu pengecut untuk mengatakannya padamu secara langsung, maafkan aku.. Terimakasih kamu sudah pernah hadir dihidupku, jadi teman yang slalu ada disaatku goyah.
Kamu slalu ada disisiku, menenangkanku..
Bagiku, kehadiranmu sangat membuatku bahagia..
Mungkin kamu gak pernah sadar, setiap kamu ada disisiku. jantungku berpacu sangat cepat.. Itu karna aku sangat bahagia bersamamu..
Aku slalu menantikan waktu- waktu bersamamu, meskipun aku tidak bisa memilikimu..
Seiring berjalannya waktu, seringnya kita mengahbiskan waktu bersama. Cintaku tumbuh perlahan untukmu..
Aku sangat menyayangimu, Nathan..
Tapi aku sadar kita hanya sebatas sahabat tidak lebih.
Mungkin hari ini pertemuan kita yang terakhir, aku lari dari mu Nathan..
Aku sungguh tidak ingin tau bagaimana reaksimu terhadapku, juga aku tak ingin merusak tali persahabatan kita selama ini..
Harapanku, kamu mau memakai jacket ini..
Dengan Jacket ini, semoga kamu bisa slalu ingat kalau kamu adalah seseorang yang mudah untuk dicintai dan kamu akan selalu begituu..
Aku cukup mengagumimu dari jauh..
Selamat tinggal Nathanael, terimakasih telah memberi warna dihidupku..
Oh iyaa, aku akan melanjutkan sekolahku di Paris.. Seperti yang aku ceritakan padamu waktu itu.. Aku harap setelah kelulusanmu nanti, kamu juga akan kuliah di austin seperti cita-citamu..
LOVE
MIA "
Aku hanya diam terpaku, betapa bodohnya aku tidak menyadarinya. Aku meneteskan air mata, "Nathan bodoh!! kenapa kamu gak sadar dari dulu?!" aku segera mengambil handphoneku menelfon Kak Mia, tapihadphonenya mati.. AKu memasukkan suratnya, dan emngembalikan kotaknya dalam tas. Aku berlari sebisaku, mengejar Kak Mia di parkiran motor, menuruni tangga dengan cepat.. semua siswa melihat kearahku, aku tidak peduli lagi seberapa banyak air mata yang sudah menetes.
"iyaa bang?" tanyaku gelagapan..
"than, kamu dimana?? bbmku ke kamu pending" itu ternyata suara Kak Salwa
" Kak.. Kak Mia ... ka pan berangkat ke paris?" tanyaku terbata-bata ..
"nah itu barusan aku mau bilang, sore ini.. skerang aku sama Vano udah di airport" tanpa pikir panjang aku mematikan telfon lalu memakai jacket dari Kak mia. Memasukkan Kotaknya dalam tasku. Aku segera mengedarai motorku ke airport, yang paling tidak membutuhkan waktu 45 menit. Aku memutar gas sekuat tenaga tapi kenapa masih saja tidak segera sampai. "Pleasee Tuhan, berikan aku kesempatan untuk mengatakan padanya.. seperti yang dia lakukan padaku"
Aku berlari menyusuri sepanjang gerbang masuk di airport ini. Aku melihat Bang Vano melambaikan tangan kearahku.
"ma, na , Kak.. Mia?" tanyaku dengan nafas tersengal-sengal.
"itu," tunjuk Kak Salwa. Kak Mia sedang berada dibarisan untuk check in di airport. aku berlari sambil meneriaki namanya. Kak Mia hendak berjalan maju tapi tertahan lalu menoleh kearahku. Ddengan segera Kak mia keluar dari barisan itu, melewati banyak orang yang berada dibelakangnya. Kak Mia berdiri dihadapanku dengan mata sembap. Tanpa berfikir panjang aku langsung mendekapnya.
"Meski Kakak tidak mengharapkan jawaban dariku, Aku akan mengatakan.." Aku mengatur nafasku, melepaskan pelukan singkat itu. Lalu dia memberiku sebotol air mineral, aku meneguknya sebentar. Lalu tersenyum ke arahnya. " Aku sayang sama kamu, kak.. Aku terlalu bodoh gak sadar kita punya rasa yang sama. Maafin aku, kalo aku datang dihidupmu disaat kamu akan pergi dari hidupku." aku menggegam kedua tangannya, aku menatap matanya. Dia tersenyum, lalu memelukku " Terimakasih Nathan" Kata Kak Mia pelan. Aku membalas pelukkannya.
"Mia, udah waktunya!" Suara laki-laki paruh baya didepan pintu masuk. Kak Mia melepaskan pelukannya, dan menolehke arah laki-laki itu lalu berkata tanpa suara. Dan Laki-laki itu hanya mengangguk dan masuk meninggalkan Mia.
"Goodbye, Nathan.." Kak Mia mengucapkannya dengan dihiasi senyum getir
"Hello Mia!" Ucapku sambil melambaikan tanganku kearahnya. "Tunggu aku disana, aku tidak akan ke austin. Aku akan ke Paris menemuimu, dan bersamamu disana" Kak Mia memandangku dengan bahagia, aku memeluknya lagi dan mencium puncak kepalanya.
"Aku akan merindukanmu, Mia. Sangat merindukanmu.." ucapku pelan
"Aku juga Nathan" Kami melepaskan pelukkan, Kak Mia berjalan pergi meninggalkan aku. Dia melambaikan tangan kearahku, aku membalasnya.. Dia mulai berjalan menghialng di balik pintu dengan kaca gelap itu.
"sepertinya ada ? hmm" suara Bang Vano berdeham dibelakangku.
"Sudah ya Bang, Nathan mau pulang. bye!" Aku berlari kecil meninggalkan Bang Vano dan Kak Salwa yang sedang bertanya-tanya." Terimakasih Tuhaan .." kataku dalam hati.
---MIA--
"Terimakasih Tuhan, kau hadirkan cinta juga di hati Nathan.. Aku sangat bahagia, karna aku memiliki hatinya." ucapku dalam hari seraya memandangi foto Nathan yang sedang tersenyum manis dengan seragam putih abu-abu dan memeluk pundakku, terpasang sebagai wallpaper ponselku.